Jumat, 06 Januari 2012

OLAHAN TANAH MASYARAKAT JOMBANG

Adalah seorang  Mbah sunarti, wanita tangguh berusia 73 tahun yang begitu semangat menapaki hari-hari kehidupan dengan ketekunan berjibaku dengan tanah. Sejak usia yang cukup muda, 12 tahun beliau telah menjadi pengrajin tanah liat. Bukan membuat batu bata atau genteng, tapi oleh tangan beliau adalah tanah liat tergarap menjadi cobek, kendi, dan tunggu sederhana. Berbagai ukuran beliau buat. Dan inilah usaha turun temurun yang ada di keluarga beliau, mulai dari kakeh-nenek, ibu-bapak, Bu Sunarti dan suami (alm.) dan kini anak beliau semua menjadi pengrajin tanah liat.

Mungkin manakala yang dilihat adalah rentang begitu panjangnya usia usaha, bisa dikira usaha Mbah Sunarti kini telah mencapai puncak kesuksesan. Akan tetapi ternyata tidaklah demikian, usaha yang telah berjalan hampir 1 abad ini hingga sekarang rimbanya tetap tak berkembang. Perharinya untuk produksi cobek (berbagai ukuran) beliau hanya mampu menghasilkan 10 cobek. Harga jualpun ternyata tak setinggi yang dikira, dari penjualan 50 biji cobek yang dihasilkan setiap 2 minggu sekali, beliau meraup untung hanya sebesar Rp.65.000,00. Hemmm.......padahal proses pembuatannya tidak mudah lho......

Dalam 2 minggu, Mbah Sunarti membutuhkan bahan mentah tanah yang biasanya ditukar dengan uang  Rp.15.000,00, tanah itu kemudian digiling dengan ongkos giling Rp.10.000,00. Tanah yang telah digiling tersebut  di cetak menjadi cobek atau lainnya.. Tak berhenti sampai disitu, cobek yang telah dicetak akan dikeringkan 3 sampai 4 hari dahulu sebelum dibakar. Nah..... setelah dibakar, cobek siap dipasarkan.
Target pasar adalah sekitar Jombang sampai ke Kalimantan. Namun Mbah Sunarti tak melakukan penjualan sendiri, Ibu dari tujuh putra ini menyetorkan kepada distributor untuk menjual produksinya. Jarang sekali ada pembeli yang langsung datang kerumah yang sekaligus perusahaan beliau. Namun distributor mencari hasil karya beliau karena kualitas yang terkenal bagus. Apa yang menentukan kualitas itu? “ hasil buatan tangan dengan dengan mesin berbeda,” jelas Mbah Sunarti tentang alasan kualitas. Yupz.... mbah Sunarti dari awal usaha memang mencetak cobek secara manual, dengan tangan. Cobek hasil kelincaahan tangan beliau banyak dicari, namun usia tua menghalangi. Saat ditanya keinginan untuk memiliki mesin pencetak beliau dengan tegas menjawab, “Tidak..... meskipun dengan mesin bisa mencetak 300 per hari sedang dengan tangan hanya 10 per hari, tapi hasil mesin tidak sebagus tangan. Jadi, tidak kepingin punya mesin..... Begini saja.”

Itulah sepenggal kisah salah seorang pengrajin tanah liat masyarakat Jombang. Di belahan Jombang bagian timur, tepatnya dusun Kebon Dalem desa Kademangan Mojoagung warganya mayoritas mempunyai usaha rumahan membuat karya dari tanah liat. Jika menengok Desa Gambang Gudo yang indah terias usaha manik-maniknya, di daerah sini tiap deretan rumah senada dengan indahnya deretan cobek, kendi, dll. Tak mahal harga beli disini, untuk cobek manual yang ukuran besar mentah (belum dibakar) harganya hanya Rp.800,00 sedangkan matangnya (sudah dibakar) Rp.1300,00. Sedang cobek mesin ukuran besar mentah hanya Rp.500,00 sedang matang Rp.700,00.
Bagaimana saat ramadhan tiba?..........

“Kalau puasa malah kendo (menurun untungnya-red) ...... tenaga banyak, permintaan banyak, tapi harga tetap. Usaha begini memang untungnya tidak seberapa, tapi mbah senang. Meski tua tapi semangat kan?..... Itu karena punya kesibukan..... tidak apa-apa uang sedikit yang penting bisa tenang ibadah ke Gusti Allah,” Ujar Mbah Sunarti diakhiri tawa tuanya yang renyah.
Semoga Barokah usaha Mbah Sunarti dan teman-teman pengrajin tanah liat yang memperkaya kreatifitas langit Jombang...... Bagi yang ingin beli cobek, kendi, atau kerajinan tanah liat yang lain ayo anjangsana ke Kebon Dalem Kademangan Mojoagung! [Syilvi]

5 komentar: